Sabtu, 19 Januari 2013

sepi dalam keramaian

Diposting oleh Unknown di 06.57 0 komentar
telah lama aku menjalani hidup ini sendiri
sendiri tanpa seseorang di sampingku
mungkin karena aku tak gampang mempunyai perasaan suka terhadap seseorang

aku mungkin banyak mengecewakan orang yang baik dan sayang padaku
sahabat saya banyak yang bilang, "apa yang ada dipikiran kamu?? kamu sadar ngak dia itu suka sama kamu"
aku yang tak mengerti lagi akan apa yang namanya cinta?

sikapku yang dingin, sikapku yang biasa membuat orang bingung tentang perasaanku
saat aku mulai mencoba membuka hatiku, tapi yang ku dapatkan hanyalah harapan kosong....
sedih rasanya, aku kecewa

datanglah seseorang yang tak ku duga.
aku senang sekali bisa mengenal dia
dia berbeda dari yang lainnya
perhatiannya, bercandanya, dan aku nyaman dengan dia

Tapi Tuhan sedih hatiku
mengapa Engkau selalu membuat perasaanku seperti ini?
apakah Engkau belum mengizinkan aku untuk mencintai dan dicintai oleh seseorang??
apakah Engkau belum mengizinkan aku untuk memiliki dan dimiliki oleh seseorang yang sama - sama mempunyai rasa??

Maafkan aku Ya Allah atas semua perbuatanku
Izinkan aku untuk mencintai dan dicintai seseorang serta memiliki dan dimiliki seseorang dengan perasaan sayang yang tulus

Jumat, 18 Januari 2013

bahan bangunan

Diposting oleh Unknown di 23.16 0 komentar

Pertanyaan :
1.     a. Jelaskan proses pembuatan jenis – jenis aspal yang saudara ketahui dan berikan
contoh masing – masing !
b. Jelaskan kelebihan menggunakan aspal buatan !
c. Apa yang dimaksud dengan MDR dan jelaskan pengaruh MDR terhadap sifat Aspal ?
2.  Jelaskan tahapan – tahapan membuat mix design aspal beton campuran panas metode Marshall !
3.  Data suatu hasil uji Marshall, sebagai berikut :
No.
Perameter Marshall
Satuan
Spesifikasi
Kadar Aspal, %
4,5
5
5,5
6
6,5
7
1.
Kepadatan (density)
ton/m3
-
2,232
2,345
2,475
2,481
2,412
2,366
2.
Rongga dalam mineral agregat ( VMA )
%
Min. 14
15,31
15,01
14.32
15.08
15.48
15.99
3.
Rongga terisi aspal ( VFA )
%
Min. 63
64,72
73,66
80,12
83,66
90,11
98,09
4.
Rongga dalam campuran ( VIM )
%
3,5-5,5
5,430
4,660
3,760
3,432
3,340
3,080
5.
Stabilitas Marshall ( MS )
kg
Min. 800
754,44
856,88
997,6
1205,43
933,08
796,73
6.
Kelelehan Marshall ( Flow )
mm
Min. 3
3,16
3,32
3,67
3,87
4,25
4,97
7.
Hasil bagi Marshall ( MQ )
kg/mm
Min. 250
238,75
258,10
271,83
311,48
219,55
160,31
     

Tentukan kadar aspal optimumnya !



penyelesaian :

1.     a. Proses pembuatan aspal
Aspal alam adalah aspal yang diperoleh secara alami langsung berupa batuan aspal atau minyak bumi yang keluar kepermukaan lalu menguap minyaknya dan mengeras.

Aspal Alam

a.      Menurut sifat kekerasannya :
·        Batuan, Asbuton
·        Plastis, Trinidad
·        Cair, Bermudab.

b.     Menurut Kemurniannya
·        Murni, Bermuda
·        Tercampur dengan mineral, Asbuton + Trinidadc.

c.     Menurut Depositnya
·        Aspal Danau (Lake Asphalt)
Aspal ini secara alamiah terdapat di danau Trinidad, Venezuella dan Lawele. Aspal initerdiri dari bitumen, mineral dan bahan organik lainnya. Angka penetrasi dari aspal ini sangat rendah dan titik lembeknya sangat tinggi. Karena aspal ini sangat keras, dalampemakaiannya aspal ini dicampur dengan aspal keras yang mempunyai angka penetrasiyang tinggi dengan perbandingan tertentu sehingga dihasilkan aspal dengan angka penetrasi yang diinginkan.

·        Aspal Batu (Rock Asphalt)Aspal batu Kentucky dan Buton adalah aspal yang secara alamiah terdeposit di daerahKentucky, USA dan di pulau Buton, Indonesia. Aspal dari deposit ini terbentuk dalamcelah-celah batuan kapur dan batuan pasir. Aspal yang terkandung dalam batuan iniberkisar antara 12 - 35 % dari masa batu tersebut dan memiliki tingkat penetrasi antara0 - 40. Untuk pemakaiannya, deposit ini harus ditambang terlebih dahulu, lalu aspalnyadiekstraksi dan dicampur dengan minyak pelunak atau aspal keras dengan angka penetrasi yang lebih tinggi agar didapat suatu campuran aspal yang memiliki angkapenetrasi sesuai dengan yang diinginkan. Pada saat ini aspal batu telah dikembangkanlebih lanjut, sehingga menghasilkan aspal batu dalam bentuk butiran partikel yang berukuran lebih kecil dari 1 mm dan dalam bentuk mastik.

Aspal Buatan
Aspal buatan adalah aspal yang diperoleh melalui proses penyulingan minyak bumi yaitu dengan cara memanaskan minyak mentah dan dipanaskan pada suhu ± 550°F atau 290°C yang kemudian didinginkan secara bertingkat.

Jenis dari aspal buatan antara lain adalah sebagai berikut:
1.     Aspal keras
2.     Aspal cair
3.     Aspal emulsi
4.     Ter
1.     Aspal Keras
Aspal keras merupakan aspal hasil destilasi yang bersifat viskoelastis sehingga akan melunak dan mencair apabila mendapat cukup pemanasan dan sebaliknya. Aspal keras digunakan untuk bahan pembuatan AC (Asphalt Concrete). Aspal yang digunakan dapat berupa aspal keras penetrasi 60 atau penetrasi 80 yang memenuhi persyaratan aspal keras.
Jenis-jenisnya :
·        Aspal penetrasi rendah 40 / 55, digunakan untuk kasus: Jalan dengan volume lalu lintas tinggi, dan daerah dengan cuaca iklim panas.
·        Aspal penetrasi rendah 60 / 70, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas sedang atau tinggi, dan daerah dengan cuaca iklim panas.
·        Aspal penetrasi tinggi 80 / 100, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas sedang / rendah, dan daerah dengan cuaca iklim dingin.
·        Aspal penetrasi tinggi 100 / 110, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas rendah, dan daerah dengan cuaca iklim dingin.

2.     Aspal Cair
Aspal cair adalah campuran antara aspal semen dengan bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi. Dengan demikian cut back asphalt berbentuk cair dalam temperatur ruang. Aspal cair merupakan aspal hasil dari pelarutan aspal keras dengan bahan pelarut berbasis minyak. Berdasarkan bahan cairnya dan kemudahan menguap bahan pelarutnya, aspal cair dibedakan atas :
1.    RC (Rapid Curing Cut Back):Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bensin atau premium.RC merupakan cut back aspal yang paling cepat menguap.
2.    MC (Medium Curing Cut  Back):Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan pencair yang lebih kental seperti minyak tanah
3.    SC (Slow Curing Cut Back)
4.    Merupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan yang lebih kental seperti solar. Aspal jenis ini merupakan cutback aspal yang paling lama  menguap.
Berdasarkan nilai viskositas pada temperatur 60oC, cutback aspat dapat dibedakan atas :
RC 30 – 60                     MC 30 – 60                    SC 30 – 60
RC 70 – 40                     MC 70 – 140                   SC 70 – 140
RC 250 – 500                 MC 250 – 500                 SC 250 – 500
RC 800 – 1600                MC 800 – 1600               SC 800 – 1600
RC 3000 – 6000              MC 3000 – 6000             SC 3000 – 6000


3.     Aspal Emulsi
Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras ke dalam air atausebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi sehingga diperoleh partikel aspalyang bermuatan listrik positif (kationik), negatif (anionik) atau tidak bermuatanlistrik (nonionik).

Jenis-jenisnya adalah:

·                Aspal Emulsi Anionik
Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras kedalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi anionic sehingga partikel-partikel aspal bermuatan ion-negatif.

·        Aspal Emulsi Anionik Mengikat Cepat (Rapid setting, RS).
Aspal emulsi bermuatan negatif yang aspalnya mengikat agregat secaracepat setelah kontak dengan agregat.

·        Aspal Emulsi Anionik Mengikat Lebih Cepat (Quick setting, QS)
Aspal emulsi bermuatan negatif yang aspalnya mengikat agregat secaralebih cepat setelah kontak dengan agregat. Meliputi : QS-1h (QuickSetting-1): Mengikat lebih cepat-1 keras (Pen 40-90).

·        Aspal Emulsi Jenis Mantap SedangAspal emulsi yang butir-butir aspalnya bermuatan listrik positip.
·        Aspal Emulsi Kationik
Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras kedalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi jenis kationiksehingga partikel-partikel aspal bermuatan ion positif.

·        Aspal Emulsi Kationik Mengikat Cepat (CRS).
Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secaracepat setelah kontak dengan agregat.

·        Aspal Emulsi Kationik Mengikat Lambat (CSS).
Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secaralambat setelah kontak dengan agregat. 

·        Aspal Emulsi Kationik Mengikat Lebih Cepat (CQS).
Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secaralebih cepat setelah kontak dengan agregat.

·        Aspal Emulsi Kationik Mengikat Sedang (CMS).
Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara sedang setelah kontak dengan agregat.

·        Aspal Emulsi Mantap Cepat (Cationic Rapid Setting - CRS)
Aspal emulsi kationik yang partikel aspalnya memisah cepat dari airsetelah kontak dengan aggregat.

·        Aspal Emulsi Mantap Cepat (cationic rapid setting, CRS).
Aspal emulsi kationik yang partikel aspalnya memisah cepat dari airsetelah kontak dengan aggregate aspal emulsi jenis kationik yang partikelaspalnya memisah dengan cepat dari air setelah kontak dengan udara.

Faktor yang dapat mempengaruhi aspal emulsi:
1.   Jenis dan konsentrasi zat emulsi yang digunakan
2.   Kekerasan dan jml aspal semen yang digunakan
3.   Ukuran partikel aspal dlm emulsi
4.   Muatan ion pada partikel emulsi
5.   Sifat zat emulsi, dll.

Faktor yang harus dipertimbangkan dlm memilih aspal emulsi:
1.   Keadaan cuaca yg diperkirakan selama pelaksanaan
2.   Jenis dan ketersediaan agregat
3.   Lokasi geografis
4.   Pengawasan lalu lintas
5.   Pertimbangan lingkungan

4. Ter
Merupakan hasil penyulingan batu bara dan kayu (tidak umum digunakan, peka terhadap perubahan temperatur dan beracun)

b. Kelebihan menggunakan aspal buatan :
·        Mempunyai daya lekat yang kuat
·        Bersifat  adhesive
·        Tidak larut dalam air
·        Merupakan bahan yg plastis yang dengan kelenturannya mudah diawasi untuk dicampur dengan agregat
·        Sangat tahan terhadap asam, alkali dan garam-garaman
·        Mudah dicairkan jika dipanaskan
·        Larut dalam CS2 dan CCI4
·        Mengikat batuan agar tidak lepas dari permukaan jalan akibat lalu lintas (waterproofing, protect terhadap erosi)

c.     MDR ( Malthene Distribution Ratio ) adalah angka perbandingan antara jumlah senyawa basa nitrogen + acidaffin 1 dibagi dengan jumlah paraffin + acidaffin 2

Pengaruh MDR terhadap sifat aspal :
·   Apabila MDR < 0,6 maka dapat menyebabkan aspal kurang kohesif.
·   Apabila MDR > 1,5 maka dapat menyebabkan aspal pegas
·   Apabila MDR ± 1,14 merupakan aspal yang baik, dapat merekat atau kohesif dan tahan terhadap gaya gesek

2.     Tahapan – tahapan membuat mix design aspal beton campuran panas metode Marshall :

A. Penentuan Komposisi Agregat Dalam Campuran

Dari hasil pemeriksaan gradasi/analisa saringan agregat dibuat grafik yang didasarkan pada persen lolos untuk masing-masing nomor saringan yang digunakan. Selanjutnya untuk mendapatkan prosentase masing-masing fraksi agregat (chipping, pasir dan abu batu) dalam campuran dipakai Metode Grafis Diagonal, dimana prosedurnya sebagai berikut :
1.     Diketahui gradasi ideal yang akan digunakan dari persyaratan gradasi yang ditentukan.
2.     Digambar empat persegi panjang dengan ukuran (10 x 20) cm.
3.     Dibuat garis diagonal dari ujung kiri bawah keujung kanan atas.
4.     Sisi vertikal menyatakan persen lolos saringan dengan skala 0 dibawah dan 100 diatas.
5.     Dengan melihat spefikasi ideal, tiap-tiap nilai ideal tersebut diletakkan pada garis diagonal berupa titik.
6.     Dari tiap titik pada diagonal ditarik garis vertikal untuk menempatkan nomor-nomor saringan.
7.     Digambar grafik gradasi dari masing-masing fraksi yang akan dicampur.
8.     Untuk menentukan prosentase agregat kasar, dilihat dari jarak antara grafik gradasi kasar terhadap tepi bawah dan jarak grafik sedang terhadap tepi atas yang harus sama, pada suatu garis lurus.
9.     Pada garis tersebut, ditarik garis vertikal yang memotong garis diagonal. Kemudian dari titik potong ini ditarik garis horisontal yang memotong garis tepi, sehingga didapat prosentase agregat kasar yang diperlukan.
10.Langkah 8 dan 9 diulangi untuk mendapatkan prosentase agregat halus dan bahan pengisi.
Setelah diperoleh komposisi dari setiap jenis fraksi agregat, dibuat suatu tabel hasil analisa gabungan agregat, dimana prosentase masing-masing fraksi yang akan digunakan diperoleh dari hasil perkalian dengan prosentase lolos untuk masing-masing nomor saringannya. Kemudian dijumlahkan untuk masing-masing nomor saringan lalu dilihat apakah gradasi tersebut sudah memenuhi spesifikasi yang diisyaratkan sesuai jenis campuran yang akan dibuat.

Hasil penggabungan agregat diusahakan mendekati “ideal spec”, jika melalui grafik diagonal belum bagus maka digunakan metode coba-coba (Trial and Error) yaitu menentukan terlebih dahulu prosentase dari masing-masing agregat (tanpa mengubah persen lolos) kemudian hasil penggabungan agregat diperoleh melalui perkalian prosentase dengan persen lolos dari agregat.
Selanjutnya hasil perkalian tersebut masing-masing dijumlahkan dan dilihat apakah hasilnya mendekati nilai “ideal spec”. Selanjutnya dibuat grafik penggabungan agregat dan grafik spesifikasinya, setelah itu dihitung berat masing-masing fraksi yaitu prosentase fraksi dikali dengan kapasitas mould.
Berat masing-masing fraksi campuran ini, dibagi-bagi lagi berdasarkan ukuran saringan sesuai dengan prosentase tertahan agregatnya yang akan digunakan untuk pembuatan bricket uji.

B. Penentuan Berat Aspal Dalam Campuran

Setelah ditentukan kadar aspal yang akan digunakan dalam campuran, maka berat aspal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Berat aspal (gram) = A x B

Dimana :
A = Kadar aspal ( % )
B = Kapasitas mould (gram)


C. Penentuan Berat Jenis dan Penyerapan Campuran

Setelah diperoleh hasil pemeriksaan berat jenis dan penyerapan agregat dan berat jenis aspal, maka berat jenis dan penyerapan dari total agregat/campuran serta penyerapan aspal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

- Berat jenis bulk (Gsb) = P1 + P2 + Pn
(bulk spesific gravity) (P1/G1) (P2/G2) + (Pn/Gn)

- Berat jenis semu (Gsa) = P1 + P2 + Pn
(apparent specific gravity) (P1/A1) (P2/A2) + (Pn/An)

- Berat jenis efektif (Gse) = Gsb + Gsa
(effective specific gravity) 2

- Penyerapan aspal (Pba) = Gse - Gsb x Ga x 100%
Gse x Gsb
dimana :
Gsb = berat jenis bulk
Gsa = berat jenis semu/apparent
Gse = berat jenis efektif
Pba = penyerapan aspal
Ga = berat jenis aspal
P1, P2,. . ., Pn = persentase berat dari komponen agregat 1, 2,...n
G1,G2,..,Gn = berat jenis bulk dari masing-masing agregat
A1, A2,,An = berat jenis apparent dari masing-masing agregat

3.      
No.
Perameter Marshall
Satuan
Spesifikasi
Kadar Aspal, %
4,5
5
5,5
6
6,5
7
1.
Kepadatan (density)
ton/m3
-
2,232
2,345
2,475
2,481
2,412
2,366
2.
Rongga dalam mineral agregat ( VMA )
%
Min. 14
15,31
15,01
14.32
15.08
15.48
15.99
3.
Rongga terisi aspal ( VFA )
%
Min. 63
64,72
73,66
80,12
83,66
90,11
98,09
4.
Rongga dalam campuran ( VIM )
%
3,5-5,5
5,430
4,660
3,760
3,432
3,340
3,080
5.
Stabilitas Marshall ( MS )
kg
Min. 800
754,44
856,88
997,6
1205,43
933,08
796,73
6.
Kelelehan Marshall ( Flow )
mm
Min. 3
3,16
3,32
3,67
3,87
4,25
4,97
7.
Hasil bagi Marshall ( MQ )
kg/mm
Min. 250
238,75
258,10
271,83
311,48
219,55
160,31


No.
Perameter Marshall
Satuan
Spesifikasi
Kadar Aspal, %
4,5
5
5,5
6
6,5
7
1.
Kepadatan (density)
ton/m3
-






2.
Rongga dalam mineral agregat ( VMA )
%
Min. 14






3.
Rongga terisi aspal ( VFA )
%
Min. 63






4.
Rongga dalam campuran ( VIM )
%
3,5-5,5






5.
Stabilitas Marshall ( MS )
kg
Min. 800






6.
Kelelehan Marshall ( Flow )
mm
Min. 3






7.
Hasil bagi Marshall ( MQ )
kg/mm
Min. 250






Kadar aspal optimum ( % )
5 – 5,5 = 5.3
 

my life is simple Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting